Back to top

PROMO DETAIL BANK BRI

Mengenal Gejala Financial Distress dan Cara Mencegahnya

Mengenal Gejala Financial Distress dan Cara Mencegahnya

2021-09-14 11:04:38

Tantangan bisnis di zaman modern memang semakin berat karena dipengaruhi berbagai faktor. Persaingan bisnis yang kian ketat harus diimbangi dengan strategi yang tepat supaya bisa tetap bertahan. Sebelum mengalami kebangkrutan, biasanya ada beberapa gangguan yang terjadi, salah satunya yaitu financial distress.

Istilah financial distress memang asing bagi sebagian besar orang meskipun sebenarnya hal tersebut sering terjadi pada semua sektor bisnis. Oleh sebab itu, kamu patut mengenal financial distress dan beberapa gejalanya supaya bisa melakukan langkah pencegahan yang tepat.

Apa yang Dimaksud dengan Financial Distress?

Financial distress adalah kondisi saat individu atau perusahaan tidak bisa menghasilkan pendapatan atau laba yang cukup. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut dalam mengelola bisnis, tentu saja bisa berujung pada kebangkrutan bisnis. Beberapa gejala financial distress yang terjadi pada bisnis, antara lain:

- Sulit mencapai Break Even Point (BEP) atau titik impas.

- Margin keuntungan sangat kecil dan tidak dapat ditingkatkan demi menjaga kestabilan harga produk atau jasa di pasaran.

- Omzet bisnis tidak mencapai target.

- Kegiatan operasional mengalami kerugian hingga bertahun-tahun.

- Tidak mampu melunasi utang.

- Jumlah utang kian bertambah karena perputaran modal tak cukup untuk menopang bisnis.

- Sulit mendapatkan pelanggan baru.

Pelanggan tidak kembali membeli produk atau jasa bisnismu.

Mengenal Berbagai Penyebab Financial Distress

Sebelum mempelajari cara mencegah financial distress, sebaiknya kamu mengenali beberapa penyebabnya terlebih dahulu:

- Tidak mampu menerapkan strategi yang tepat untuk meningkatkan omzet bisnis.

- Manajemen arus kas tidak dilakukan secara sistematis sehingga laporan keuangan bisnis terganggu.

- Biaya produksi terlalu tinggi dan tidak disiasati dengan metode yang biayanya terjangkau.

- Harga bahan baku melambung tinggi sehingga pebisnis terpaksa menaikkan harga produk atau jasa.

- Perubahan kebijakan pemerintah yang mempengaruhi daya beli masyarakat, contohnya kenaikan bea cukai rokok yang membuat masyarakat mengurangi konsumsi rokok.

- Penyalahgunaan aset yang dilakukan oknum pengelola bisnis.

- Tingkat turnover karyawan relatif tinggi sehingga pengelolaan bisnis menjadi kurang stabil.

- Tindakan korupsi yang tidak diberantas sehingga terus-menerus menimbulkan kerugian besar.

- Krisis yang terjadi akibat hal-hal tak terduga, misalnya daya beli masyarakat menurun selama pandemi.

Bagaimana Cara Mencegah Financial Distress

Jangan panik dulu bila kondisi bisnis yang kamu kelola sedang kurang baik. Saat bisnis terindikasi mengalami gangguan, sebaiknya kamu melakukan beberapa cara mencegah financial distress berikut ini supaya terhindar dari kebangkrutan:

Menjaga Rasio Utang

Idealnya, rasio utang bisnis tidak melebihi 50% dari total aset bersih. Kamu patut menjaga rasio utang tersebut agar jumlah utang tidak meningkat dan memperbesar risiko gagal bayar. Seiring berjalannya waktu, kamu juga harus berupaya agar bisnismu dapat melunasi utang secara tepat waktu.

Menerapkan Perencanaan Keuangan yang Efektif

Perencanaan keuangan yang tepat juga akan menghindarkan bisnis dari risiko financial distress. Itulah sebabnya kamu harus memberlakukan sistem perencanaan keuangan yang tepat sejak memulai bisnis. Kamu dapat memanfaatkan software pengelolaan keuangan untuk mempermudah transaksi serta dokumentasi arus keuangan. Selain itu, jangan lupa melakukan proses audit secara rutin untuk menemukan berbagai kesalahan finansial dalam bisnis. Implementasi sistem keuangan yang tepat akan membuat proses bisnis berlangsung lancar dan bisa menghasilkan keuntungan besar.

Menyiapkan Aset Likuid

Bukan hanya individu saja yang harus menyiapkan aset likuid, bisnis juga sangat membutuhkan aset likuid. Kepemilikan aset likuid akan mempermudah bisnismu untuk melakukan proses operasional dan membayar utang ketika kondisi kas bisnis sedang tidak memadai. Jika bisnismu memiliki kas dalam jumlah sangat banyak, kamu bisa mengalokasikannya dalam bentuk uang tabungan atau emas sehingga bisa lekas digunakan saat dibutuhkan.

Menambah Sumber Pendapatan Bisnis

Cara lainnya untuk mencegah financial distress pada bisnis adalah menambah sumber pendapatan. Kamu harus berinisiatif meluncurkan produk baru, berkolaborasi dengan brand lain, atau mencari investor untuk menambah pendapatan bisnis. Jangan malas berinovasi dan mempelajari berbagai model bisnis agar terhindar dari risiko gangguan keuangan yang menyebabkan kebangkrutan.

Cara Mengatasi Financial Distress pada Bisnis

Tak ada kata terlambat dalam mengatasi financial distress asalkan hal tersebut belum menyebabkan bisnis bangkrut. Financial distress pada bisnis dapat diatasi dengan melakukan beberapa hal berikut ini:

Restrukturisasi Kredit

Jangan ragu mengajukan perpanjangan waktu untuk membayar utang kredit atau penurunan suku bunga saat bisnismu mengalami financial distress. Jika berhasil melakukan restrukturisasi kredit, maka kamu harus lekas memperbaiki perencanaan bisnismu. Siapkan target dan strategi baru agar bisnis bertumbuh secara signifikan sesuai dengan jangka waktu yang kamu tetapkan. Kalau bisnismu berhasil mencapai peningkatan omzet, kemungkinan besar kamu akan memiliki aset likuid untuk melunasi utang.

Mengurangi Pengeluaran Bisnis

Cara mengatasi financial distress juga bisa dilakukan dengan mengurangi pengeluaran bisnis. Beberapa strategi yang efektif meminimalkan pengeluaran, antara lain:

- Menemukan metode produksi yang lebih hemat dibandingkan proses produksi sebelumnya.

- Mencari pemasok bahan baku yang harganya lebih terjangkau.

- Mengurangi jumlah karyawan supaya bisa menghemat pengeluaran untuk gaji. Pengurangan karyawan mesti dilakukan secara teliti agar karyawan terbaik tetap dipertahankan.

- Mempekerjakan karyawan freelance yang gajinya dihitung berdasarkan kuantitas pekerjaan yang diselesaikan.

- Melakukan pemotongan gaji karyawan untuk sementara waktu. Berikan pengertian terhadap karyawan bahwa tindakan ini bersifat sementara hingga kondisi bisnis kembali stabil.

Mengandalkan Piutang

Ada kabar baik bagi bisnis yang masih memiliki piutang. Financial distress dapat diringankan dengan menagih piutang yang sempat diberikan kepada pihak lain. Kamu harus melakukan penagihan secara gencar untuk menambah jumlah kas bisnis. Usahakan agar semua pihak yang berutang pada bisnismu lekas membayar agar kamu tidak perlu mengajukan utang baru pada bank atau lembaga keuangan lainnya.

Melakukan Upaya Merger dengan Bisnis Lain

Kesulitan bisnis yang disebabkan financial distress juga dapat diatasi melalui upaya merger dengan bisnis lain. Proses merger akan membuat bisnis berjalan lebih baik sesuai kesepakatan dua belah pihak atau lebih. Kamu juga berkesempatan melakukan ekspansi bisnis jika berhasil melakukan merger dengan perusahaan yang tepat. Jadi, merger tak selalu berdampak buruk asalkan prosesnya dilakukan secara rinci dengan visi misi yang jelas.

 

Setelah berhasil mengatasi financial distress, niscaya kamu jadi lebih cermat mengelola keuangan bisnis. Proses mengelola keuangan bisnis jadi semakin praktis karena kini kamu bisa mengandalkan fitur Personal Financial Management (PFM) di aplikasi BRImo. Personal Financial Management (PFM) dapat menginformasikan jumlah pengeluaran selama bertransaksi menggunakan BRImo, kamu juga bisa mencatat manual pemasukan. PFM di aplikasi BRImo memuat rincian transaksi bisnis beserta tanggalnya secara detail. Fitur tersebut akan mempermudah kamu mencatat anggaran bisnis sehingga kamu bisa menjaga kestabilan kondisi finansial bisnis secara mudah. Nantinya, kamu tinggal mencatat ringkasan transaksi yang memuat informasi tentang pendapatan dan pengeluaran bisnis. 

 

Yuk, belajar mengelola keuangan bisnis secara teliti melalui hal-hal sederhana, salah satunya adalah mengandalkan fitur PFM pada aplikasi BRImo.